KENDARI- Sejatinya pasar tradisional harus di kembalikan pada Local Genius, karena sejak dulu pedagang lebih terbiasa dan nyaman dengan kondisi yang ada. Adopsi konsep pasar dari Astralia misalnya musti di tinjau kembali karena kondisi sosiologis dan gemografinya berbeda dengan Kota Kendari.
Pasar tradisional merupakan cultural identity, identitas/kepribadian budaya bangsa. mengapa Konsep Pasar Tradisional musti di kembalikan pada Local Genius? karena telah terbukti sedari sebelum lahirnya konsep pasar modern hingga kini pasar tradisional yang bermuatan lokal mampu bertahan terhadap diantara berdirinya plaza, mall dan lain-lain tinggal unsur kehigienisan pasar saja yang musti di jaga.
Pemikiran ini terungkap dalam diskusi di Warung Kopi Nderlin. Diskusi dengan tema: "Pasar Tradisional dan Ekonomi Kerakyatan" yang diselenggarakan kelompoik Kendari Kreatif (KK) ini juga menghadirkan para pedagang pasar sentral Kota Kendari yang langsung menyampaikan aspirasi dan keluhannya.
Derlin sebagai salah satu pendiri KK yang juga hadir sebagai pemateri mengatakan, "Ekonomi Kerakyatan (pancasila) merupakan suatu konsep yang lahir dari perut bumi indonesia jauh sebelum Indonesia Merdeka, tapi sampai hari ini konsep tersebut masih jauh dari khittahnya karena terkikisnya oleh ekonomi kapitalisme (teori NeoKlasik Amerika)''
Derlin menegaskan, Pasar Tradisional berada di ketidakpastian jalan. Kita juga belum mengetahui batasan mana yang di katakan Pasar Tradisional dan Pasar Modern.
Menariknya, diskusi dalam nuansa kesederhanaan ini menghadirkan Abdullah Mansuri, Ketua Umum IKAPPI (Ikatan Pedagang Pasar Indonesia) dan sejumlah pemerhati sosial di Kendari.
(Tulisan Riqar Manaba)
Blogger Comment
Facebook Comment