Bertarung Hidup di Dasar Goa

Ilustrasi Goa yang dihuni kelalawar. Foto : Istimewa.
Keringat Samrin (40 tahun) perlahan mulai bercucuran. Napasnya naik turun. Ia terus merayapi celah sempit bawah tanah. Sesekali Ia membetulkan posisi tubuhnya agar tidak terbentur di dinding goa yang keras. 

Di belakangannya menyusul seorang anak kecil. Usianya baru beranjak 12 tahun. Dia adalah Arman, anak Samrin yang masih duduk dibangku sekolah dasar.

Siang itu, keduanya terus merayap menuruni tubir-tubir goa dengan hati-hati. Makin ke dalam, ukuran liangnya makin membesar, hingga akhirnya Samrin leluasa berdiri. Sesaat, Ia berhenti dan menarik napas panjang.

Tiga lubang besar sudah berdiri kokoh di hadapannya. Pengap dan berair. Ia memilih lubang sebelah kiri. Samrin benar-benar mengenal medan di bawah tanah itu. “Saya sudah empat tahun tahun keluar masuk di goa ini, jadi tahu mana goa yang penuh kelelawarnya,”katanya.

Benar saja, baru berjalan beberapa meter, suara riuh kelelawar sudah menyambut. Hewan malam ini beterbangan begitu melihat cahaya petromak yang dibawa Samrin. Kelelawar-kelelawar ini cukup agresif,  terbang datar ke berbagai arah, seolah tak rela tempat tinggalnya diganggu manusia. Namun Samrin tak peduli.

 Bermodal  lampu petromak inilah Samrin dan Arman , menelusuri ceruk goa meski tanpa mempertimbangkan prosedur keamanan dan keselamatan mereka. “Petromak ini cukup membantu menerangi perjalanan didalam goa yang semakin kedalam semakin sempit dan gelap,”katanya. Biasanya Samrin masuk duluan, kemudian Arman menyusul dibelakang ayahnya.

Perjalanan berbahaya yang dilakukan Samrin dan  anaknya dilakukan tanpa peralatan memadai seperti yang umumnya digunakan para peneliti maupun penelusur goa professional. Tanpa dibekali peta goa, kedua penambang tradisional ini berkelana dalam goa mencari kotoran kelelawar. Dengan kaki yang digosok-gosok di tanah, Ia bisa mengetahui jika tanah goa telah penuh tumpukan-tumpukan  kotoran baru. “Dua hari lalu saya baru saja masuk mengambil pupuk goano dan sekarang kotoran sudah kembali menumpuk,”katanya puas. Makin ke dasar tumpukan kotoran kelelawar semakin banyak.

Belitan kemiskinan membuat warga di Desa Sawapudo, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara ini  nekat berburu kotoran kelelawar di dasar gua. Goano dalam bahasa setempat yang berarti kotoran kelelawar dijual dengan harga murah.

Samrin mengaku sudah bertahun-tahun mencari goano. Saat menambang Ia hanya berbekal pacul dan karung untuk mengerus dan mengumpulkan tumpukan kotoran kelelawar yang telah menyatu dengan lantai goa selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Kesulitan utama tentu saja adalah perjalanan pulang melewati setiap celah goa dengan memanggul sekarung guano.

Usaha yang bertaruing maut di dalam goa ini dilakukan samrin ini tak lain demi menambah nafkah hidup keluarganya yang kini semakin terbelit  masalah ekonomi. “Mau bagaimana lagi pekerjaan sudah semakin sulit didapatkan,”ujar Samrin.

Sementara anak samrin sendiri rela mengikuti ayahnya ke dasar goa semata-mata iba melihat sang ayah sendirian. “Saya senang membatu ayah, jadi setiap pulang sekolah saya ikut bersamanya ke goano,”kata Arman.

Dalam sehari para penambang ini mampu mengumpulkan hingga dua puluh lima karung perhari. Setiap karung guano dihargai oleh pengumpul dengan nilai tiga ribu rupiah. Sementara pengumpul biasanya melepasnya kepada petani dengan harga lima belas ribu rupiah. Setiap karung guano memiliki berat antara 25 sampai 30 kilogram. 

Guano sendiri adalah nama atau istilah yang digunakan warga setempat terhadap kotoran kelalawar gua yang diduga telah menumpuk antara puluhan hingga ratusan tahun.

Guano lebih tinggi unsur fosfatnya dibanding pupuk lainnya sangat cocok untuk pembentukan buah. Untuk pasarnya samrin  baru rencana khusus untuk daerah konawe selatan. Menurut Samrin dulu pernah datang permintaan dari luar daerah seperti Surabaya bahkan ke Negara Jepang.  (Yos Hasrul)

Share on Google Plus

About yoshasrul

    Blogger Comment
    Facebook Comment