Oknum Polisi/ TNI di Balik Kelangkaan BBM di Kendari?

Kendati BBM bersubsidi tidak jadi dinaikan pemerintah, namun tak menjamin antrian tidak terjadi. Di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara ratusan  truk mengantri BBM jenis solar sejauhi 3 KM, seperti yang terjadi  di salah satu SPBU di Jalan Mayjen Sutoyo, Kendari , Jumat (6/4). Diduga, kelangkaan BBM jenis solar ini terjadi akibat praktik penimbunan oleh oknum masyarakat untuk diselundupkan ke perusahaan-perusahaan tambang di daerah kabupaten. Foto: yoshasrul/kendarikita.com

KENDARI, KK-Fenomena kelangkaan BBM jenis solar teru saja  di  Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Hampir setiap hari ratusan truk-truk bejubel di seluruh  SPBU. Para sopir seolah sudah akrab dengan antraian ini. Mereka sabar menunggu pengisian bahan bakar. Mereka sudah ada yang sejak malam memarkir kendaraan mereka di jalan.

Beberapa sopir sopir  truk khusus pengangklut pasir dan tanah timbunan mengaku sudah dua tahun lebih merana dengan kondisi antrian di SPBU. "Ini berbeda dengan kondisi tiga tahun lalu, dimana antrian sangat longgar, antrian solar bisa hanya lima belas menit sampai setengah jam paling lama di SPBU,"kata Lukman, seorang sopir truk di Kendari . Saat ini kata Lukman antrian sangat padat diseluruh SPBU. Para sopir terpaksa menunggu seharian penuh demi  mendapatkan isian jatah solar.

Antrian yang lama tentu memiliki dampak ekonomi sistemik pada sopir. Pendapatan dari pekerjaan sopir menurun tajam, apalagi di tengah permintaan pekerjaan angkutan seperti pasir dan timbunan tanan yang cukup banyak. Membuat mereka tidak leluasa untuk bergerak.

Lukman mengaku, dulu jauh sebelum adanya antrian panjang, Ia bisa menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Bahkan sudah termasuk lembur tambahan. Setoran ke pemilik mobil pun lancar. "Tapi kini semua tinggal harapan. Saya berharap kondisi kelangkaan solar ini bisa berlalu,"kata Lukman.

foto: yoshasrul/kendarikita.com
Tak hanya sopir pasir yang mengalami kondisi miris itu. Para sopir pengangkut sampah juga mengalami hal serupa. Sampah-sampah dalam kota terkadang harus ditinggal tak terurus /terbengkalai akibat armada sampah harus antri di SPBU. Saat melintas ke SPBU mobil-mobil ‘pasukan kuning’ Nampak terparkir seperti ular. Di SPBU di Jalan Mayjen Sutoyo Kendari, misalnya, antrian truk dan mobil yang menggunakan solar  ‘mengular’ hingga 3 KM  panjangnya. Kondisi yang sama juga  di seluruh kabupaten di Sulawesi Tenggara. Seperti di Kabupaten Kolaka, Konawe Utara, Bombana, Konawe, Buton  dan Kolaka Utara.

Seorang sopir mengaku terpaksa menginap di SPBU hanya untuk menunggu antrian solar. “Saya terpaksa bawa bekal dari rumah,”kata Ansar dengan nada miris. Sebagain besar para sopir merasa lelah dengan kondisi tersebut.Antrian yang panjang ini memang bukan tanpa sebab, bukan pula karena krisis BBM belanda negeri ini. Tapi permainan mafia tambang telah merenggut hak-hak para pekerja sector jasa angkutan di negeri ini.

Bisnis solar yang diduga didalangi oknum polisi dan oknum TNI ikut membuat kisruh menjadi penyebab utama yang memicu parahnya kelangkaan solar  seluruh daerah di Sultra. Stok solar seolah tidak ada cukupnya. Dari informasi kebutuhan solar di Sultra melonjak seiring eksploitasi tambang. Diperkirakan sampai 400.000 ribu  kiloliter per bulannya. Sebuah angka yang fantastis dalam satu dekade belakangan. Kondisi ini dimanfaatkan para oknum-oknum dari kelas pebisnis yang umumnya dibekingi oknum aparat.

Seperti pengakuan Sam, seorang oknum warga di Kelurahan Kemaraya, Ia  mengaku  menjalankan bisnis solar untuk dijual ke industry tambang  Harga solar subsidi yang normal di jual dengan dua kali harga biasa. Harga normal solar dipasaran mencapai Rp 4500 rupiah solar per liter, lalu di jual dengan kisaran Rp 7000- Rp 8.000 per liter ke perusahaan tambang. Kebutuhan solar di industri tambang memang cukup besar sehingga perusahaan-perusahaan tambang tidak ragu untuk membeli solar eceran tersebut. “Dari pada perusahaan membeli solar harga subsidi yang jumlahnya dibatasi, lebih baik mereka membeli ke pengecer,”katanya.

foto: yoshasrul/kendarikita.com
Sam juga memberikan informasi jika Ia hanya menjalankan bisnis seorang oknum berseragam di Kendari. Ia menggunakan kendaraan sejenis feroza yang tangkinya diubah dengan kapasaitas 300 liter. Ia pun mengitari seluruh SPBU untuk melakukan pengisian. Modus yang sederhana tapi efektif. “Hanya saja penuh resiko untuk ditangkap petugas,”katanya.

“Tapi Alhamdulillah sudah setahun berbisnis solar ‘illegal’ itu Saya belum pernah tertangkap. Mungkin mereka tau (polisi) kalo saya ini dibeking oknum berseragam,”ujarnya sambil tersenyum.

Dalam liputan media massa local, polisi telah banyak menangkap para pelaku dari oknum polisi dan tentara. Bahkan polisi membongkar jaringan mafia solar illegal ini dalam modus menimbun solar di sebuah bungker yang dibuat khusus oleh pemiliknya. Sayang kasus-kasus seperti ini hanya menjerat para pengecer, sebaliknya para  pemilik usaha solar seperti oknum petugas  tidak terjangkau hukum.

"Jadi naik atau turun harga BBM akan sama saja  akan menyusahkan rakyat manakala pengawasan dan penegakan hukum tidak dijalankan para penegak hukum. Dan yang terpenting rakyat pun tidak harus   mengangkangi aturan yang merugikan rakyat lainnya,"kata Lukman.

Hilangnya moral dan nurani memang telah membuat bangsa ini jatuh ke jurang kemiskinan. Pemerintah, penegak hokum, politisi, pemilik media, ekonom, pengacara, mahasiswa dan semua yang ada dinegeri ini tak lagi saling percaya. Jaminan penegakan hokum dan kondisi moral semua elemen negeri ini termasuk rakyat ternyata telah tersandera dengan sikap korup. (Yos Hasrul).
Share on Google Plus

About yoshasrul

    Blogger Comment
    Facebook Comment